Tampilkan postingan dengan label Olah Raga (MI). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Olah Raga (MI). Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Februari 2011

Perayaan Gol Unik

Sepak bola bukan hanya soal menang dan kalah, namun juga sebagai hiburan.  Selain trik-trik memukau dan permainan cantik, ada juga selebrasi gol unik yang cukup menghibur, cekidot


BUTT DANCE KIDIABA (TP MAZEMBE)

Dia hanyalah seorang kiper yang tentunya sangat sulit mencetak gol.  Oleh karena itu, dia melakukan selebrasi terhadap gol yang dicetak oleh kawan satu tim nya.  Kasihan sekali.  Setiap kali kawannya mencetak gol, dia akan melompat-lompat dengan pantatnya. Menakjubkan bukan?  Saya sudah mencobanya dan ternyata susah.

BOYBAND MAINZ

3 pemain FSV MAINZ, klub liga jerman, menirukan gaya anak band setiap salah satu dari mereka mencetak gol.  Lewis Holtby, mengambil botol minuman dan menjadikannya speaker.  Andre Schurrle, menggunakan tiang bendera corner kick sebagai gitar. Sementara Adam Szalai, melepas sepatunya dan menjadikannya sebagai stik drum.  Inilah bukti bahwa demam SM*SH sedang melanda dunia.

KABARET STJARNAN

FC STJARNAN mungkin bermain sepak bola hanya untuk mencetak gol dan merayakannya.  Bayangkan, setiap mereka mencetak gol, mereka akan melakukan kabaret dengan koreografi yang nyaris sempurna.  Salah satu yang terkenal adalah perayaan ala memancing ikan. Search in youtube kawan! It’s recommended.

JACKO MARICA

Ciprian Marica, striker Vfb Stuttgart, langsung mengangkat tangan kanan dan meletakkan tangan kirinya di selangkangan ketika dia mencetak gol.  “Aku memang meniru Jacko.  Aku berharap bisa menyempurnakan tarian itu pada masa mendatang” katanya.

MIRKO VUCINIC

Ketika mencetak gol ke gawang Swiss, dia lantas melepaskan celana nya dan menjadikannya mahkota.  Keberanian yang luar biasa.

TANADARI LEE
</
Pemain Sanfrecce Hiroshima ini beraksi bak seorang samurai yang menebas satu per satu kawannya hingga semua jatuh terkapar.  Setelah semuanya ditebas, dengan gaya cool ia kembali menyarungkan pedangnya.  Yang terbaru adalah gaya memanahnya ketika mencetak gol tunggal ke gawang Australia pada final Piala Asia lalu.

Sejarah Itu Bernama Park Ji Sung

Satu-satunya pemain Asia yang bermain di Final Liga Champion Eropa, pemain Asia pertama yang bermain di lebih 100 pertandingan untuk MU, pemain asia dengan transfer termahal dengan 4 juta Poundsterling saat 2004-2005, pemain nasional dengan rekor tampil terbanyak 94 kali, dan salah satu dari 3 pemain asia yang mencetak 3 gol di sepanjang keikutsertaannya di Piala Dunia.
Dia juga mencetak gol penentu pada Piala Dunia 2002 melawan Portugal, mencetak gol kemenangan atas Liverpool musim lalu, dan dia juga yang mencetak gol penyeimbang skor saat MU menghadapi arsenal Januari lalu. Melihat kesuksesan pemain ini sebenarnya cukup di luar dugaan karena pada awalnya banyak yang mempertanyakan pembelian mahal dia dari PSV Enidhoven, yang dianggap bisnis semata.

Wajar karena terbukti saat dilakukan penelitian sejak dia pindah ke MU, 75 % penggemar sepakbola di Korea Selatan menjagokan MU yang didominasi dengan alasan keberadaannya, menurut Birbeck Sport Business Centre. Tercatat 250 ribu pemegang kartu kredit MU, dan 100 ribu fans aktif yang membayar membership.

Aelain keuntungan finansial  yang didapat dari “Park Effect”, MU juga merasakan keuntungan dari talenta pemain ini. Saat ini suporter sudah menciptakan “chant” khusus untuk dia. Bahkan pemerintah Korea selatan memberi salah satu jalan disana dengan nama “Park Ji Sung Road”.
Ketika di interview tentang rahasia kesuksesannya selain latihan keras, dia berkata, “If it was not for coach Hiddink, I would not be where I am now. He is my master and I owe him everything. I won’t be able to repay it in my lifetime.”

Ya ternyata Guus Hidink adalah mentor yang menjadikan dia pemain berkualitas tinggi seperti saat ini.

Pertandingan MU-Arsenal sudah berakhir dengan skor 1-0, MU kembali menduduki posisi puncak klasemen dan yang pasti nama Park Ji Sung kembali menjadi pembuat sejarah di Old Trafford

Siapapun bisa menjadi “history maker”. Anda pun bisa asalkan kita bisa lakukan seperti yang telah dilakukan Park Ji Sung, Kita asah kemampuan dengan semua tenaga kita dan kita memiliki mentor-mentor terbaik yang dapat kita jadikan panutan untuk mengasah diri mengeluarkan yang terbaik dari diri kita. Setiap kesulitan, tekanan, ketidakpercayaan orang lain justru kita jadikan sarana untuk semakin men-‘STRETCH’ kemampuan kita. Karena saat berhasil, bukan hanya personal image kita yang berubah. Perusahaan atau organiasi kita juga akan ikut diuntungkan, daerah asal kita, negara kita dan bahkan dunia ini.  Sebuah pembelajaran yang luar biasa dari seorang bernama PARK JI SUNG. Be the historymaker.

KONTROVERSI MESSI

Terpilihnya Lionel Messi sebagai pemain terbaik dunia dengan kalahnya Xavi Hernandez dan Andres Iniesta yang lebih difavoritkan memunculkan banyak kontroversi, ada yang pro dan ada yang kontra, berikut opini orang-orang terhadap hal ini :

“Messi satu langkah ddi depan kami semua, dia pemain terbaik dan tidak ada argument yang bisa membantahnya.  Penghargaan ini juga merupakan hadiah bagi system pembinaan usia dini Barcelona.  Aku bangga menjadi bagian di dalamnya” –Xavi Hernandez, Midfielder Barcelona–

“Jika orang-orang memilih Messi itu karena dia layak menerimanya.  Dia memang seorang juara.  Aku tidak kecewa.  Kami bertiga sudah menjadi nomine, salah satu dari kami yang mendapatkannya, dan Leo yang terpilih.  Kami semua ikut bahagia kepada Messi, juga senang berada disini.”  –Andreas Iniasta, Midfielder Barcelona–

“Aku tidak terlalu berharap bisa terpilih.  Aku ingin mempersembahkan trofi ini untuk rekan-rekanku, karena tanpa bantuan mereka aku tidak akan berada di sini.  Trofi ini memang diberikan kepadaku, tapi Xavi dan Iniesta juga layak menerimanya atas semua yang telah mereka lakukan selama ini” –Lionel Messi, Right-Wing Forward Barcelona–

“Ada  ketidakadilan dalam acara ini.  Bagi saya, Xavi adalah pemain yang lebih pantas memenangi penghargaan pemain terbaik.  Khusus bagi Xavi, dia pasti sangat terpukul.  Saya tahu betul kualitasnya dan dia lebih banyak memenangi trofi” –Jose Mourinho, Pelatih Real Madrid–

“Sungguh sayang, Ballon D’Or dibajak FIFA.  Jika indicator yang digunakan adalah performa individu pemain, Messi memang pantas menang.  Tapi jika melihat pengaruh buat tim, Piala Dunia, dan gelar, Xavi lebih pantas” –Sid Lowe, Jurnalis Inggris–